jump to navigation

Riwayat Singkat Imam Bukhori 9 January 2008

Posted by tulisanasrofi in ISLAM.
trackback

*Muhammad Bin Ismail Al Bukhori, Imam Ahlul Hadits yang Ditinggalkan Umatnya
*

Negeri Bukhara sebagai negeri muara sungai Jihun yang terletak di sebelah
utara Afghanistan dan sebelah selatan Ukraina adalah negeri yang banyak
melahirkan imam-imam Ahlul hadits dan Ahlul fiqh. Negeri itu menyimpan
kenangan sejarah perjuangan para imam-imam Muslimin dalam berbagai bidang
ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dapat disebutkan di sini, para Imam Ahlul
Hadits yang lahir dan dibesarkan di negeri Bukhara antara lain adalah:
Al-Imam Abdullah bin Muhammad Abu Ja’far Al-Musnadi Al-Bukhari yang
meninggal dunia di negeri tersebut pada hari Kamis bulan Dzulqa’dah tahun
220 H. dan kemudian juga lahir di Bukhara, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail
bin Ibrahim Al-Bukhari yang lahir pada tahun 194 Hijriyah dan wafat pada
tahun 256 H di sebuah desa bernama Khortanak menuju arah Samarkan. Juga
lahir dan dibesarkan di negeri ini Al-Imam Abi Naser Ahmad bin Muhammad bin
Al-Husain Al-Kalabadzi Al-Bukhari yang lahir tahun 323 H dan meninggal tahun
398 H. dan masih banyak lagi deretan para imam-imam besar Ahli hadits yang
menghiasi indahnya sekarah negeri Bukhara.

Tetapi di masa kini kaum Muslimin di dunia, apabila disebut Imam Bukhari,
maka yang dipahami hanyalah Imam Ahlul Hadits dari negeri Bukhara yang
bernama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Bardizbah Al-Bukhari. Karena
karya beliau yang amat masyhur di kalangan kaum Muslimin di dunia ialah:
Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi
yang kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih Al-Bukhari. Kata “Bukhari”
itu sendiri maknanya ialah: Orang dari negeri Bukhara. Jadi kalau dikatakan
“Imam Bukhari” maknanya ialah seorang tokoh dari negeri Bukhara.

*AL-BUKHARI DI MASA KECIL*
Nasab kelengkapan dari tokoh yang sedang kita bincangkan ini adalah sebagai
berikut: Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah.
Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli orang-orang Persia yang menyembah api.
Sang kakek tersebut meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi. Putra
dari Bardizbah yang bernama Al-Mughirah kemudian masuk Islam di bawah
bimbingan gubernur negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga Al-Mughirah dengan
segenap anak cucunya dinisbatkan kepada kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata cucu
dari Al-Mughirah ini di kemudian hari mengukir sejarah yang agung, yaitu
sebagai seorang Imam Ahlul Hadits.

Al-Imam Al-Bukhari lahir pada hari Jum’at tanggal 13 Syawal 194 H di negeri
Bukhara di tengah keluarganya yang cinta ilmu sunnah Nabi Muhammad
shallallahu `alaihi wa sallam. Karena ayah beliau bernama Ismail bin Ibrahim
bin Al-Mughirah adalah seorang ulama Ahli hadits yang meriwayatkan
hadits-hadits Nabi dari Imam Malik bin Anas, Hammad bin Zaid, dan sempat
pula berpegang tangan dengan Abdullah bin Mubarak. Riwayat-riwayat Ismail
bin Ibrahim tentang hadits Nabi tersebar di kalangan orang-orang Iraq.

Ayah Al-Bukhari meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Di saat menjelang
wafatnya, Ismail bin Ibrahim sempat membesarkan hati anaknya yang masih
kecil sembari menyatakan kepadanya: “Aku tidak mendapati pada hartaku satu
dirham pun dari harta yang haram atau satu dirham pun dari harta yang
syubhat.” Tentu anak yang ditumbuhkan dari harta yang bersih dari perkara
haram atau syubhat akan lebih baik dan mudah dididik kepada yang baik.
Sehingga sejak wafatnya sang ayah, Al-Bukhari hidup sebagai anak yatim dalam
dekapan kasih sayang ibunya.

Muhammad bin Ismail mendapat perhatian penuh dari ibunya. Sejak usianya yang
masih muda dia telah hafal Al-Qur’an dan tentunya belajar membaca dan
menulis. Kemudian pada usia sepuluh tahun, Muhammad kecil mulai bersemangat
mendatangi majelis-majelis ilmu hadits yang tersebar di berbagai tempat di
negeri Bukhara. Pada usia sebelas tahun, dia sudah mampu menegur seorang
guru ilmu hadits yang salah dalam menyampaikan urut-urutan periwayatan
hadits (yang disebut sanad). Usia kanak-kanak beliau dihabiskan dalam
kegiatan menghafal ilmu dan memahaminya sehingga ketika menginjak usia
remaja –enam belas tahun–, beliau telah hafal kitab-kitab karya imam-imam
Ahli hadits dari kalangan tabi’it tabi’in (generasi ketiga umat Islam),
seperti karya Abdullah bin Al-Mubarak, Waqi’ bin Al-Jarrah, dan memahami
betul kitab-kitab tersebut.

Usia kanak-kanak Muhammad bin Ismail telah berlalu dengan agenda belajar
yang amat padat. Kesibukannya di masa kanak-kanak dalam menghafal dan
memahami ilmu, mengantarkannya kepada masa remaja yang cemerlang dan
menakjubkan. Kini ia menjadi remaja yang amat diperhitungkan orang di
majelis manapun dia hadir. Karena dalam usia belasan tahun seperti ini dia
telah hafal di luar kepala tujupuluh ribu hadits lengkap dengan sanadnya di
samping tentunya Al-Qur’an tiga puluh juz.

*MELANGLANG BUANA MENUNTUT ILMU*
Di awal usianya yang ke delapan belas, Al-Bukhari diajak ibunya bersama
kakaknya bernama Ahmad bin Ismail berangkat ke Makkah untuk menunaikan
ibadah haji. Perjalanan jauh antara negeri Bukhara dengan Mekkah menunggang
unta, keledai dan kuda adalah pengalaman baru baginya. Sehingga dia terbiasa
dengan berbagai kesengsaraan perjalanan jauh mengarungi padang pasir,
gunung-gunung dan lembahnya yang penuh keganasan alam. Dalam kondisi yang
demikian, dia merasa semakin dekat kepada Allah dan dia benar-benar
menikmati perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan itu. Sesampainya di
Makkah, Al-Bukhari mendapati kota Makkah penuh dengan ulama Ahli Hadits yang
membuka halaqah-halaqah ilmu. Tentu yang demikian ini semakin menggembirakan
beliau. Oleh karena itu, setelah selsai pelaksanaan ibadah haji, beliau
tetap tinggal di Makkah sementara kakak kandungnya kembali ke Bukhara
bersama ibunya. Beliau bolak-balik antara Makkah dan Madinah, kemudian
akhirnya mulai menulis biografi para tokoh. Sehingga lahirlah untuk pertama
kalinya karya beliau dalam bidang ilmu hadits yang berjudul Kitabut Tarikh.
Ketika kitab karya beliau ini mulai tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam,
ramailah pembicaraan orang tentang tokoh ilmu hadits tersebut dan semua
orang amat mengaguminya. Sampai-sampai seorang Imam Ahli Hadits di masa itu
yang bernama Ishaq bin Rahuyah membawa Kitabut Tarikh karya Al-Bukhari ini
ke hadapan gubernur negeri Khurasan yang bernama Abdullah bin Thahir
Al-Khuza’i, sembari mengatakan: “Wahai tuan gubernur, maukah aku tunjukkan
kepadamu atraksi sihir?” Kemudian ditunjukkan kepadanya kitab ini. Maka
gubernur pun membaca kitab tersebut dan beliau sangat kagum dengannya.
Sehingga tuan gubernur pun mengatakan: “Aku tidak mengerti bagaimana dia
bisa mengarang kitab ini.” Al-Imam Al-Bukhari pun akhirnya menjadi amat
terkenal di berbagai negeri Islam. Ketika Al-Imam Al-Bukhari berkeliling ke
berbagai negeri tersebut, beliau mendapati betapa para ulama Ahlul Hadits di
setiap negeri tersebut sangat menghormatinya. Beliau berkeliling ke berbagai
negeri pusat-pusat ilmu hadits seperti Mesir, Syam, Baghdad (Iraq), Bashrah,
Kufah dan lain-lainnya.

Di saat berkeliling ke berbagai negeri itu, beliau suatu hari duduk di
majlisnya Ishaq bin Rahuyah. Di sana ada satu saran dari hadirin untuk
kiranya ada upaya mengumpulkan hadits-hadits Nabi dalam satu kitab. Dengan
usul ini mulailah Al-Imam Al-Bukhari menulis kitab shahihnya dan kitab
tersebut baru selesai dalam tempo enam belas tahun sesudah itu. Beliau
menuliskan dalam kitab ini hadits-hadits yang diyakini shahih oleh beliau
setelah menyaring dan meneliti enam ratus ribu hadits. Beliau pilih
daripadanya tujuh ribu dua ratus tujupuluh lima hadits shahih dan seluruhnya
dikumpulkan dalam satu kitab dengan judul Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min
Haditsi Rasulillah wa Sunani wa Ayyamihi yang kemudian terkenal dengan nama
kitab Shahih Al-Bukhari. Kitab ini pun mendapat pujian dan sanjungan dari
berbagai pihak di seantero negeri-negeri Islam. Sehingga ketokohan beliau
dalam ilmu hadits semakin diakui kalangan luas dunia Islam. Para imam-imam
Ahli Hadits sangat memuliakannya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ali bin
Al-Madini, Yahya bin Ma`in dan lain-lainnya.

*IMAM AL-BUKHARI DISANJUNG DI MANA-MANA*
Karya-karya beliau dalam bidang hadits terus mengalir dan beredar di dunia
Islam. Kepiawaian beliau dalam menyampaikan keterangan tentang berbagai
kepelikan di seputar ilmu hadits di berbagai majelis-majelis ilmu bersinar
cemerlang sehingga beliau dipuji dan diakui keilmuannya oleh para gurunya
dan para ulama yang setara ilmunya dengan beliau, lebih-lebih lagi oleh para
muridnya. Beliau menimba ilmu dari seribu lebih ulama dan semua mereka
selalu mempunyai kesan yang baik, bahkan kagum terhadap beliau.

Al-Imam Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf bin Al-Mizzi meriwayatkan dalam kitabnya
yang berjudul Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal beberapa riwayat pujian para
ulama Ahli hadits dan sanjungan mereka terhadap Muhammad bin Ismail
Al-Bukhari. Di antara beberapa riwayat itu antara lain ialah pernyataan
Al-Imam Mahmud bin An-Nadhir Abu Sahl Asy-Syafi’i yang menyatakan: “Aku
masuk ke berbagai negeri yaitu Basrah, Syam, Hijaz dan Kufah. Aku melihat di
berbagai negeri tersebut bahwa para ulamanya bila menyebutkan Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari selalu mereka lebih mengutamakannya daripada diri-diri
mereka.”

Karena itu majelis-majelis ilmu Al-Imam Al-Bukhari selalu dijejali ribuan
para penuntut ilmu. Dan bila beliau memasuki suatu negeri, puluhan ribu
bahkan ratusan ribu kaum Muslimin menyambutnya di perbatasan kota karena
beberapa hari sebelum kedatangan beliau, telah tersebar berita akan
datangnya Imam Ahlul Hadits, sehingga kaum Muslimin pun berjejal-jejal
berdiri di pinggir jalan yang akan dilewati beliau hanya untuk sekedar
melihat wajah beliau atau kalau bernasib baik, kiranya dapat bersalaman
dengan beliau.

Al-Imam Muhammad bin Abi Hatim meriwayatkan bahwa Hasyid bin Ismail dan
seorang lagi (tidak disebutkan namanya), keduanya menceritakan: “Para ulama
Ahli Hadits di Bashrah di jaman Al-Bukhari masih hidup merasa lebih rendah
pengetahuannya dalam hadits dibanding Al-Imam Al-Bukhari. Padahal beliau ini
masih muda belia. Sehingga pernah ketika beliau berjalan di kota Bashrah,
beliau dikerumuni para penuntut ilmu. Akhirnya beliau dipaksa duduk di
pinggir jalan dan dikerumuni ribuan orang yang menanyakan kepada beliau
berbagai masalah agama. Padahal wajah beliau masih belum tumbuh rambut pada
dagunya dan juga belum tumbuh kumis.”

*DATANGLAH BADAI MENGHEMPAS*
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dielu-elukan dan disanjung orang di
mana-mana. Pujian penuh ketakjuban datang dari segala penjuru negeri, dan
beliau dijadikan rujukan para ulama di masa muda belia. Di saat penuh
kesibukan ibadah dan ilmu yang menghiasi detik-detik kehidupan Al-Bukhari,
pada sebagian orang muncul iri dengki terhadap berbagai kemuliaan yang Allah
limpahkan kepadanya.

Badai itu bermula dari kedatangan beliau pada suatu hari di negeri Naisabur
dalam rangka menimba ilmu dari para imam-imam Ahli Hadits di sana.
Kedatangan beliau ke negeri tersebut bukanlah untuk pertama kalinya. Beliau
sebelumnya sudah berkali-kali berkunjung ke sana karena Nasaibur termasuk
salah satu pusat markas ilmu sunnah. Lagi pula di sana terdapat guru beliau,
seorang Ahli Hadits yang bernama Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli. Pada suatu
hari tersebarlah berita gembira di Naisabur bahwa Muhammad bin Ismail
Al-Bukhari akan datang ke negeri tersebut untuk tinggal padanya beberapa
lama. Bahkan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli mengumumkan secara khusus
di majelis ilmunya dengan menyatakan: “Barangsiapa ingin menyambut Muhammad
bin Ismail besok, silakan menyambutnya karena aku akan menyambutnya.” Maka
masyarakat luas pun bergerak mengadakan persiapan untuk menyambut kedatangan
Imam besar Ahli Hadits di kota mereka.

Di hari kedatangan Imam Al-Bukhari itu, ribuan penduduk Naisabur bergerombol
di pinggir kota untuk menyambutnya. Di antara yang berkerumun menunggu
kedatangan beliau itu ialah Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli bersama
para ulama lainnya. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ya’qub Al-Akhram bahwa
ketika Al-Bukhari sampai di pintu kota Naisabur, yang menyambutnya sebanyak
empat ribu orang berkuda, di samping yang menunggang keledai dan himar serta
ribuan pula yang berjalan kaki.”

Imam Muslim bin Al-Hajjaj menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail datang
ke Naisabur, semua pejabat pemerintah dan semua ulama menyambutnya di batas
negeri.”
Ketika Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari sampai di Naisabur, para
penduduk menyambutnya dengan penyambutan yang demikian besar dan agung.
Beribu-ribu orang berkerumun di tempat tinggal beliau setiap harinya untuk
menanyakan kepada beliau berbagai masalah agama dan khususnya berbagai
kepelikan tentang hadits. Akibatnya berbagai majelis ilmu para ulama yang
lainnya menjadi sepi pengunjung. Dari sebab ini mungkin timbul ketidakenakan
di hati sebagian ulama itu terhadap Al-Bukhari.

Di hari ketiga kunjungan beliau ke Naisabur, terjadilah peristiwa yang amat
disesalkan itu. Diceritakan oleh Ahmad bin Adi peristiwa itu terjadi sebagai
berikut:
Telah menceritakan kepadaku sekelompok ulama bahwa ketika Muhammad bin
Ismail sampai ke negeri Naisabur dan orang-orang pun berkumpul
mengerumuninya, maka timbullah kedengkian padanya dari sebagian ulama yang
ada pada waktu itu. Sehingga mulailah diberitakan kepada para ulama Ahli
hadits bahwa Muhammad bin Ismail berpendapat bahwa lafadh beliau ketika
membaca Al-Qur’an adalah makhluk. Pada suatu majelis ilmu, ada seseorang
berdiri dan bertanya kepada beliau: “Wahai Abu Abdillah (yakni Al-Bukhari),
apa pendapatmu tentang orang yang menyatakan bahwa lafadhku ketika membaca
Al-Qur’an adalah makhluk? Apakah memang demikian atau lafadh orang yang
membaca Al-Qur’an itu bukan makhluk?”

Mendengar pertanyaan itu, beliau berpaling karena tidak mau menjawabnya.
Akan tetapi si penanya mengulang-ulang terus pertanyaannya hingga sampai
ketiga kalinya seraya memohon dengan sangat agar beliau menjawabnya.
Al-Bukhari pun akhirnya menjawab dengan mengatakan: “Al-Qur’an kalamullah
(perkataan Allah) dan bukan makhluk. Sedangkan perbuatan hamba Allah adalah
makhluk, dan menguji orang dalam masalah ini adalah perbuatan bid’ah.”

Dengan jawaban beliau ini, si penanya membikin ricuh di majelis dan
mengatakan tentang Al-Bukhari: “Dia telah menyatakan bahwa lafadhku ketika
membaca Al-Qur’an adalah makhluk.” Akibatnya orang-orang di majelis itu
menjadi ricuh dan mereka pun segera membubarkan diri dari majelis itu dan
meninggalkan beliau sendirian. Sejak itu Al-Bukhari duduk di tempat
tinggalnya dan orang-orang pun tidak lagi mau datang kepada beliau.”

Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Ghalib dengan
sanadnya dari Muhammad bin Khasynam menceritakan: “Setelah orang
meninggalkan Al-Bukhari, orang-orang yang meninggalkan beliau itu sempat
datang kepada beliau dan mengatakan: “Engkau mencabut pernyataanmu agar kami
kembali belajar di majelismu.” Beliau menjawab: “saya tidak akan mencabut
pernyataan saya kecuali bila mereka yang meninggalkanku menunjukkan hujjah
(argumentasi) yang lebih kuat dari hujjahku.”

Kata Muhammad bin Khasynam: “Sungguh aku amat kagum dengan tegarnya dan
kokohnya Al-Bukhari dalam berpegang dengan pendirian.”

Kaum Muslimin di Naisabur gempar dengan kejadian ini dan akhirnya arus
fitnah melibatkan pula Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli sehingga beliau
menyatakan di majelis ilmu beliau yang kini telah ramai kembali setelah
orang meninggalkan majelis Al-Bukhari: “Ketahuilah, sesungguhnya siapa saja
yang masih mendatangi majelis Al-Bukhari, dilarang datang ke majelis kita
ini. Karena orang-orang di Baghdad telah memberitakan melalui surat kepada
kami bahwa orang ini (yakni Al-Bukhari) mengatakan bahwa lafadhku ketika
membaca Al-Qur’an adalah makhluk. Kata mereka yang ada di Baghdad bahwa
Al-Bukhari telah dinasehati untuk jangan berkata demikian, tetapi dia terus
mengatakan demikian. Oleh karena itu, jangan ada yang mendekatinya dan
barangsiapa mendekatinya maka janganlah mendekati kami.”

Tentu saja dengan telah terlibatnya Imam Adz-Dzuhli, fitnah semakin meluas.
Hal ini terjadi karena Adz-Dzuhli adalah imam yang sangat berpengaruh di
seluruh wilayah Khurasan yang beribukota di Naisabur itu. Bahkan lebih
lanjut Al-Imam Adz-Dzuhli menegaskan: “Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni
firman Allah) dan bukan makhluk dari segala sisinya dan dari segala keadaan.
Maka barangsiapa yang berpegang dengan prinsip ini, sungguh dia tidak ada
keperluan lagi untuk berbicara tentang lafadhnya ketika membaca Al-Qur’an
atau omongan yang serupa ini tentang Al-Qur’an. Barangsiapa yang menyatakan
bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir dan keluar dari
iman, dan harus dipisahkan dari istrinya serta dituntut untuk taubat dari
ucapan yang demikian. Bila dia mau taubat maka diterima taubatnya. Tetapi
bila tidak mau taubat, harus dipenggal lehernya dan hartanya menjadi
rampasan Muslimin serta tidak boleh dikubur di pekuburan kaum Muslimin. Dan
barangsiapa yang bersikap abstain dengan tidak menyatakan Al-Qur’an sebagai
makhluk dan tidak pula menyatakan Al-Qur’an bukan makhluk, maka sungguh dia
telah menyerupai orang-orang kafir. Barangsiapa yang menyatakan “lafadhku
ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk”, maka sungguh dia adalah Ahli
Bid’ah (yakni orang yang sesat). Tidak boleh duduk bercengkrama dengannya
dan tidak boleh diajak bicara. Oleh karena itu, barangsiapa setelah
penjelasan ini masih saja mendatangi tempatnya Al-Bukhari, maka curigailah
ia karena tidaklah ada orang yang tetap duduk di majelisnya kecuali dia
semadzhab dengannya dalam kesesatannya.”

Dengan pernyataan Adz-Dzuhli seperti ini, berdirilah dari majelis itu Imam
Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah. Bahkan Imam Muslim mengirimkan
kembali kepada Adz-Dzuhli seluruh catatan riwayat hadits yang didapatkannya
dari Imam Adz-Dzuhli, sehingga dalam Shahih Muslim tidak ada riwayat
Adz-Dzuhli dari berbagai sanad yang ada padanya.
Sikap Imam Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah yang seperti itu
menyebabkan Adz-Dzuhli semakin marah sehingga beliau pun menyatakan: “Orang
ini (yakni Al-Bukhari) tidak boleh bertempat tinggal di negeri ini bersama
aku.”

Kemarahan Adz-Dzuhli seperti ini sangat menggusarkan Ahmad bin Salamah,
salah seorang pembela Al-Bukhari. Dia segera mendatangi Al-Bukhari seraya
mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (yakni Al-Bukhari), orang ini (yakni
Adz-Dzuhli) sangat berpengaruh di Khurasan, khususnya di kota ini (yakni
kota Naisabur). Dia telah terlalu jauh dalam berbicara tentang perkara ini
sehingga tak seorang pun dari kami bisa menasehatinya dalam perkara ini.
Maka bagaimana pendapatmu?”

Al-Imam Al-Bukhari amat paham kegusaran muridnya ini sehingga dengan penuh
kasih sayang beliau memegang jenggot Ahmad bin Salamah dan membaca surat
Ghafir 44 yang artinya: “Dan aku serahkan urusanku kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” Kemudian beliau menunduk
sambil berkata: “YA Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku tinggal di Naisabur
tidaklah bertujuan jahat dan tidak pula bertujuan dengan kejelekan. Engkau
juga mengetahui ya Allah, bahwa aku tidak mempunyai ambisi untuk memimpin.
Hanyasaja karena aku terpaksa pulang ke negeriku karena para penentangku
telah menguasai keadaan. Dan sungguh orang ini (yakni Adz-Dzuhli) membidikku
semata-mata karena hasad (dengki) terhadap apa yang Allah telah berikan
kepadaku daripada ilmu.” Wajah beliau sendu menyimpan kekecewaan yang
mendalam. Dan dia menatap Ahmad bin Salamah dengan mantap sambil berkata:
“wahai Ahmad, aku akan meninggalkan Naisabur besok agar kalian terlepas dari
berbagai problem akibat omongannya (yakni omongan Adz-Dzuhli) karena sebab
keberadaanku.” Segera setelah itu Al-Bukhari berkemas-kemas untuk
mempersiapkan keberangkatannya besok kembali ke negeri Bukhara.

Rencana Al-Bukhari untuk pulang ke negeri Bukhara sempat diberitakan oleh
Ahmad bin Salamah kepada segenap kaum Muslimin di Naisabur, tetapi mereka
tidak ada yang berselera untuk melepasnya di batas kota. Sehingga Al-Imam
Al-Bukhari dilepas kepulangannya oleh Ahmad bin Salamah saja dan beliau
berjalan sendirian menempuh jalan darat yang jauh menuju negerinya yaitu
Bukhara. “Selamat tinggal Naisabur, rasanya tidak mungkin lagi aku berjumpa
denganmu.”

*BADAI DI NEGERI BUKHARA*
Di negeri Bukhara telah tersebar berita bahwa Imam Muhammad bin Ismail
Al-Bukhari sedang menuju Bukhara. Penduduk Bukhara melakukan berbagai
persiapan untuk menyambutnya di pintu kota. Bahkan diceritakan oleh Ahmad
bin Mansur Asy-Syirazi bahwa dia mendengar dari berbagai orang yang
menyaksikan peristiwa penyambutan Al-Bukhari di negeri Bukhara, dikatakan
bahwa masyarakat membangun gapura penyambutan di tempat yang berjarak satu
farsakh (kurang lebih 5 km) sebelum masuk kota Bukhara. Dan ketika Al-Imam
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari telah sampai di gapura “selamat datang”
tersebut, beliau mendapati hampir seluruh penduduk negeri Bukhara
menyambutnya dengan penuh suka cita, sampai-sampai disebutkan bahwa penduduk
melemparkan kepingan emas dan perak di jalan yang akan diinjak oleh telapak
kaki Al-Bukhari. Mereka berdiri di kedua sisi jalan masuk kota Bukhara
sambil berebut memberikan buah anggur yang istimewa kepada sang Imam Ahlul
Hadits yang amat mereka cintai itu.

Tetapi suka cita penduduk negeri Bukhara ini tidak berlangsung lama.
Beberapa hari setelah itu para ahli fikih mulai resah dengan beberapa
perubahan pada cara beribadah orang-orang Bukhara. Yang berlaku di negeri
tersebut adalah madzhab Hanafi, sedangkan Al-Bukhari mengajarkan hadits
sesuai dengan pengertian Ahli Hadits yang tidak terikat dengan madzhab
tertentu sehingga yang nampak pada masyarakat ialah sikap-sikap yang
diajarkan oleh Ahli Hadits, dan bukan pengamalan madzhab Hanafi. Orang dalam
beriqamat untuk shalat jamaah tidak lagi menggenapkan bacaan qamat seperti
adzan, tetapi membaca qamat dengan satu-satu sebagaimana yang ada dalam
hadits-hadits shahih. Ketika bertakbir dalam shalat semula tidak mengangkat
tangan sebagaimana madzhab Hanafi, sekarang mereka bertakbir dengan
mengangkat tangan.

Dengan berbagai perubahan ini keresahan para ulama fiqih tambah menjadi-jadi
sehingga tokoh ulama fiqih di negeri tersebut yang bernama Huraits bin Abi
Wuraiqa’ menyatakan tentang Al-Imam Al-Bukhari: “Orang ini pengacau. Dia
akan merusakkan kehidupan keagamaan di kota ini. Muhammad bin yahya telah
mengusir dia dari Naisabur, padahal dia imam Ahli Hadits.”

Maka Huraits dan kawan-kawannya mulai berusaha untuk mempengaruhi gubernur
Bukhara agar mengusir Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari ini. Gubernur
negeri ini yang bernama Khalid bin Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli.

Gubernur Khalid pernah meminta Al-Bukhari untuk datang ke istananya guna
mengajarkan kitab At-Tarikh dan Shahih Al-Bukhari bagi anak-anaknya. Tetapi
Al-Imam Al-Bukhari menolak permintaan gubernur tersebut dengan mengatakan:
“Aku tidak akan menghinakan ilmu ini dan aku tidak akan membawa ilmu ini
dari pintu ke pintu. Oleh karena itu bila anda memerlukan ilmu ini, maka
hendaknya anda datang saja ke masjidku, atau ke rumahku. Bila sikapku yang
demikian ini tidak menyenangkanmu, engkau adalah penguasa. Silakan engkau
melarang aku untuk membuka majelis ilmu ini agar aku punya alasan di sisi
Allah di hari kiamat bahwa aku tidaklah menyembunyikan ilmu (tetapi dilarang
oleh penguasa untuk menyampaikannya).” Tentu gubernur Khalid dengan jawaban
ini sangat kecewa. Maka berkumpullah padanya penghasutan Huraits bin Abil
Wuraqa’ dan kawan-kawan serta kekecewaan pribadi gubernur ini. Huraits dan
gubernur Khalid akhirnya sepakat untuk membikin rencana mengusir Muhammad
bin Ismail dari Bukhara. Lebih-lebih lagi telah datang surat dari Al-Imam
Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur kepada gubernur Khalid bin Ahmad
As-Sadusi Adz-Dzuhli di Bukhara yang memberitakan bahwa Al-Bukhari telah
menampakkan sikap menyelisihi sunnah Nabi shallallahu `alaihi wa sallam.
Dengan demikian matanglah rencana pengusiran Al-Imam Muhammad bin Ismail
Al-Bukhari dari negeri Bukhara.

Upaya pengusiran itu bermula dengan dibacakannya surat Muhammad bin yahya
Adz-Dzuhli di hadapan segenap penduduk Bukhara tentang tuduhan beliau kepada
Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari bahwa beliau telah berbuat bid’ah
dengan mengatakan bahwa “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk”.
Tetapi dengan pembacaan surat, penduduk Bukhara pada umumnya tidak mau
peduli dengan tuduhan tersebut dan terus memuliakan Al-Imam Al-Bukhari.
Namun gubernur Khalid akhirnya mengusirnya dengan paksa sehingga Al-Imam
Al-Bukhari sangat kecewa dengan perlakuan ini. Dan sebelum keluar dari
negeri Bukhara, beliau sempat mendoakan celaka atas orang-orang yang
terlibat langsung dengan pengusirannya. Ibrahim bin Ma’qil An-Nasafi
menceritakan: “Aku melihat Muhammad bin Ismail pada hari beliau diusir dari
negeri Bukhara, aku mendekat kepadanya dan aku bertanya kepadanya: “Wahai
Abu Abdillah, apa perasaanmu dengan pengusiran ini?” Beliau menjawab: “Aku
tidak peduli selama agamaku selamat.”

Al-Bukhari meninggalkan Bukhara dengan penuh kekecewaan dan dilepas penduduk
Bukhara dengan penuh kepiluan. Beliau berjalan menuju desa Bikanda kemudian
berjalan lagi ke desa Khartanka, yang keduanya adalah desa-desa negeri
Samarkan. Di desa terakhir inilah beliau jatuh sakit dan dirawat di rumah
salah seorang kerabatnya penduduk desa tersebut.

Dalam suasana hati yang terluka, tubuhnya yang kurus kering di usia ke
enampuluh dua tahun, beliau berdoa mengadukan segala kepedihannya kepada
Allah Ta`ala: “Ya Allah, bumi serasa sempit bagiku. Tolonglah ya Allah,
Engkau panggil aku keharibaan-Mu.” Dan sesaat setelah itu ia pun
menghembuskan nafas terakhir dan selamat tinggal dunia yang penuh onak dan
duri.

*PEMBELAAN AL-BUKHARI*
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengakhiri hidupnya di
desa Khartanka, Samarkan pada malam Sabtu di malam hari Raya Fitri (Iedul
Fitri) 1 Syawsal 256 H. sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, beliau
sempat berwasiat agar mayatnya nanti dikafani dengan tiga lapis kain kafan
tanpa imamah (ikat kepala) dan tanpa baju. Dan beliau berwasiat agar kain
kafannya berwarna putih. Semua wasiat beliau itu dilaksanakan dengan baik
oleh kerabat beliau yang merawat jenasahnya. Beliau dikuburkan di desa itu
di hari Iedul Fitri 1 Syawal 256 H setelah shalat Dhuhur. Dan seketika
selesai pemakamannya, tersebarlah bau harum dari kuburnya dan terus semerbak
bau harum itu sampai berhari-hari.
Gubernur Bukhara Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhli menuai hasil dari kedhalimannya
dengan datangnya keputusan pencopotan terhadap jabatannya dari Khalifah
Al-Muktamad karena tuduhan ikut terlibat pemberontakan Ya’qub bin Al-Laits
terhadap Khilafah Ath-Thahir. Khalid bin Ahmad akhirnya dipenjarakan di
Baghdad sampai mati di penjara pada tahun 269 H. Sedangkan Huraits bin Abil
Waraqa’ ditimpa kehancuran pada anak-anaknya yang berbuat tidak senonoh.
Para penentang Imam Bukhari menyatakan penyesalannya dan kesedihannya dengan
wafatnya beliau dan sebagian mereka sempat mendatangi kuburnya.
Mulailah setelah itu orang berani menyebarkan pembelaan Al-Imam Al-Bukhari
dari segala tuduhan miring terhadap dirinya. Tetapi berbagai pembelaan itu
selama ini tenggelam dalam hiruk pikuk fitnah tuduhan keji terhadap diri
beliau. Dan Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya.

Muhammad bin Nasir Al-Marwazi mempersaksikan bahwa Al-Imam Abu Abdillah
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari menyatakan: “Barangsiapa yang mengatakan
bahwa aku telah berpendapat bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah
makhluk, maka sungguh dia adalah pendusta, karena sesungguhnya aku tidak
pernah mengatakan demikian.”
Abu Amr Ahmad bin Nasir An-Naisaburi Al-Khaffaf mempersaksikan bahwa Al-Imam
Al-Bukhari telah mengatakan kepadanya: “Wahai Abu Amir, hafal baik-baik apa
yang aku ucapkan: Siapa yang menyangka bahwa aku berpendapat bahwa lafadhku
tentang Al-Qur’an adalah makhluk, baik dia dari penduduk Naisabur, Qaumis,
Ar-Roy, Hamadzan, Hulwan, Baghdad, Kuffah, Basrah, Makkah, atau Madinah,
maka ketahuilah bahwa yang menyangka aku demikian itu adalah pendusta.
Karena sesungguhnya aku tidaklah mengatakan demikian. Hanya saja aku
mengatakan: Segenap perbuatan hamba Allah itu adalah makhluk.”
Yahya bin Said mengatakan: “Abu Abdillah Al-Bukhari telah berkata:
Gerak-gerik hamba Allah, suara mereka, tingkah laku mereka, segala tulisan
mereka adalah makhluk. Adapun Al-Qur’an yang dibaca dengan suara huruf-huruf
tertentu, yang ditulis di lembaran-lembaran penulisan Al-Qur’an, yang
dihafal di hati para penghafalnya, maka semua itu adlaah kalamullah
(perkataan Allah) dan bukan makhluk.”

Ghunjar membawakan riwayat dengan sanadnya sampai ke Al-Firabri, dia
mengatakan bahwa Al-Bukhari telah mengatakan: “Al-Qur’an kalamullah dan
bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk maka
sungguh dia telah kafir.” Bahkan Al-Imam Al-Bukhari menulis kitab khusus
dalam masalah ini dengan judul Khalqu Af`alil Ibad yang padanya beliau
menjelaskan pendirian beliau dalam masalah ini dengan gamblang dan jelas
serta lengkap dan ilmiah.

Fitnah itu memang kejam, lebih kejam dari pembunuhan. Dia tidak akan memilih
antara orang jahil atau orang alim dari kalangan ulama. Dan ulama pun bisa
salah dalam memberikan penilaian, karena yang ma’shum (terjaga dari
kesalahan) hanyalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Orang-orang
yang menyakini bahwa ulama itu ma’shum hanyalah para ahli bid’ah dari
kalangan Rafidlah (Syiah) atau orang-orang sufi. Demikian pula orang-orang
yang mencerca ulama karena kesalahannya semata tanpa mempertimbangkan apakah
kesalahan itu karena kesalahan ijtihad ataukah kesalahan prinsip yang tak
termaafkan, yang demikian ini adalah sikap sufaha’ (orang-orang dungu)
semacm sururiyyun (pengikut Muhammad bin Surur) atau haddadiyyun (pengikut
Mahmud Al-Haddad). Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak menganggap para ulama itu
ma’shum dan tidak pula melecehkan ulama ketika mendapati kesalahan mereka.
Dengan prinsip inilah kita tetap memuliakan Al-Imam Muhammad bin Ismail
Al-Bukhari. Dan juga kita memuliakan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli.
Kita mendoakan rahmat Allah bagi para imam-imam tersebut. Dan kita memahami
segala perselisihan di kalangan mereka dengan ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah
untuk mengerti mana yang benar untuk kita ikuti dan mana yang salah untuk
kita tinggalkan.

Ahlus Sunnah wal Jamaah itu berkata dan berbuat dengan bersandarkan kepada
ilmu. Adalah bukan akhlak Ahlus Sunnah wal Jamaah bila segerombolan orang
berbuat hura-hura dan kemudian menvonis seseorang atau sekelompok orang.
Tertapi ketika ditanyai, apa dasar kamu berbuat demikian? Jawabannya: Kami
masih menunggu fatwa dari ulama!
Kita katakan kepada mereka ini: “Apalagi yang kalian tunggu dari ulama
setelah kalian berbuat, menvonis dan menilai? Apakah kalian berbuat dulu
baru mencari pembenaran terhadap perbuatan kalian dengan fatwa ulama? Kalau
begitu yang kalian tunggu adalah fatwa pembenaran dari ulama terhadap
perbuatan kalian. tentu yang demikian ini bukanlah akhlak Ahlus Sunnah wal
Jamaah.

Gubernur Bukhara Khalid bin Ahmad As-Sadusi dan mufti negeri Bukhara Huraits
bin Abil Waraqa’ telah menyimpan ketidaksenangan kepada Al-Imam Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari dan berencana untuk mengusirnya dari negeri Bukhara.
Ketika sedang mencari-cari alasan pembenaran terhadap perbuatannya tiba-tiba
datang surat dari Al-Imam Muhammad bin yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur yang
memperingatkan sang gubernur dari bahaya bid’ah yang dibawa oleh Al-Imam
Al-Bukhari. Surat ini seperti kata pepatah: pucuk dicita ulam tiba. Tanpa
selidik dan tanpa teliti, segera surat ini dibacakan di hadapan penduduk
Bukhara dan setelah itu datanglah keputusan pengusiran Al-Bukhari dari
negeri kelahirannya, sehingga yang diharapkan, kesan orang bahwa pengusiran
itu karena semata-mata alasan agama dan bukan alasan yang lainnya.

Tetapi Allah Maha Tahu dan Dia membongkar segala kejahatan di balik
alasan-alasan yang memakai atribut agama itu. Sehingga yang tertulis dalam
sejarah Islam sampai hari ini adalah kesan buruk terhadap perbuatan Khalid
bin Ahmad As-Sadusi dan Huraits bin Abil Waraqa’. Dan bukan kesan buruk yang
dibikin-bikin oleh para pencoleng fatwa ulama itu. Camkanlah! Pengkhianatan
dan kedustaan itu berulang-ulang terus dari masa ke masa. Hanya saja
pemainnya yang berganti-ganti. Tetapi semua itu akan menjadi sejarah bagi
anak cucu di belakang hari sebagaimana sejarah pengkhianatan dan kedustaan
terhadap Al-Imam Al-Bukhari yang sekarang menjadi pergunjingan bagi generasi
ini.

*DAFTAR PUSTAKA*
1). Al-Qur’anul Karim
2). At-Tarikhul Kabir, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari,
Darul Fikr, tanpa tahun.
3). Kitabuts Tsiqat, Al-Imam Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Abi Hatim
At-Tamimi Al-Busti, darul Fikr, th. 1393 H / 1993 M.
4). Kitabul Jarh wat Ta`dil, Al-Imam Abi Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim
At-Tamimi Al-Handlali Ar-Razi, darul Fikr, tanpa tahun.
5). Khalqu Af’alil Ibad, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail
Al-Bukhari, Muassasatur Risalah, th. 1411 H / 1990 M.
6). Tarikh Baghdad, Al-Imam Abi Bakr Ahmad bin Ali Al-Khatib Al-Baghdadi,
Darul Fikr, tanpa tahun.
7). Al-Ikmal, Al-Amir Al-Hafidh Ali bin Hibatullah Abi Naser bin Makula,
Darul Kutub Al-Ilmiah, th. 1411 H / 1990 M.
8). Thabaqatul Hanabilah, Al-Qadli Abul Husain Muhammad bin Abi Ya’la, Darul
Ma’rifah, Beirut, Libanon, tanpa tahun.
9). Rijal Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Abu Naser Ahmad bin Muhammad bin
Al-Husain Al-Bukhari Al-Kalabadzi, Darul Baaz, th. 1407 H / 1987 M.
10). Al-Kamil fit Tarikh, Al-Allamah Ibnu Atsir, Darul Fikr, tanpa tahun.
11). Tahdzibul Kamal, Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, Muassasatur
Risalah, th. 1413 H / 1992 M.
12). Kitab Tadzkratul Huffadl, Al-Imam Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad
Adz-Dzahabi, Darul Kutub Al-Ilmiah, tanpa tahun.
13). Siyar A`lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman
Adz-Dzahabi, Muassasatur Risalah, th. 1417 H / 1996 M.
14). Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafidh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi,
Darul Kutub Al-Ilmiyah, th. 1408 H / 1988 M.
15). Hadyus Sari Muqaddimah Fathul Bari, Al-Imam Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin
Hajar Al-Asqalani, Al-Maktabah As-Salafiyah, tanpa tahun.
16). Qaidah fi Jarh wat Ta’dil, Al-Imam Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali
As-Subki, Al-Maktabah Al-Ilmiah, Lahore, Pakistan, th. 1403 H / 1983 M.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: